Madrasah Wajib Membangun Link & Match dengan PTKI

Aparatur sipil negara (ASN) Kemenag Sumsel, khususnya ASN jajaran Pendidikan Islam mendapat wejangan dan pembinaan dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Prof Dr H Muhammad Ali Ramdhani dan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Prof Dr H Suyitno di Aula MAN 3 Palembang kemarin.


“Kami siap mendapatkan pembinaan dan wejangan, maupun informasi-informasi penting tentang pendidikan. Ini merupakan kesempatan langka. Kami yakin akan banyak membantu kami dalam meningkatkan kinerja di tempat tugas masing-masing,” ujar Kakanwil Kemenag Sumsel H Mukhlisuddin. 

Suyitno dalam paparannya menjelaskan pentingnya membangun link match antara madrasah dan perguruan tinggi keagamaan Islam. Sehingga alumni PTKIN memiliki kecakapan baik di bidang agama maupun kecakapan di bidang industri. 

“Bila yang masuk PTKIN bukan dari madrasah, dia harus ikut Ma’had Jamaah agar memiliki kecakapan beragama yang dasar atau keterampilan beragama yang dasar. Tidak seperti sekarang, di mana masih kita temukan mahasiswa atau alumni PTKIN yang tidak bisa mengaji. Bila inputnya berasal dari madrasah jurusan agama, targetnya adalah tafaqquh fiddin, sehingga bisa dihasilkan muhaddis atau mufassir,” terang Suyitno. 

Lalu bagaimana bila PTKIN tersebut tidak memiliki Ma’had Jamaah, Suyitno meminta agar bekerjasama dengan pondok pesantren.

 “Ini adalah langkah agar ada link match antara madrasah dan PTKIN. Kita tentu tidak ingin ada alumni SMK atau SMA yang masuk lantas merusak identitas atau kekhasan PTKIN,” jelasnya lagi. 

Selain itu, menurut Suyitno, alumni PTKIN harus punya link match dengan dunia industri. Sehingga lulusan PTKIN siap bersaing di dunia kerja. 

“Kita tidak ingin alumni PTKIN tidak punya kecakapan di bidang-bidang industri. Karenanya, pratikum atau magang akan ditambah durasinya. Bila selama ini hanya beberapa minggu saja, ke depan praktek kerja akan diperpanjang menjadi tiga semester atau satu setengah tahun. Dengan begitu, kehadiran mahasiswa magang tidak malah merepotkan namun benar-benar mengasah kemampuan. Setelah diberikan materi secukupnya, mereka akan banyak praktek. Dengan demikian, bila ada mahasiswa jurusan keguruan misalnya, saat keluar dari PTKIN benar-benar sudah menjadi guru dan siap pakai,” beber Suyitno. 

Sementara itu, Dirjen Pendis Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhan S.TP,  MT dalam paparannya menuturkan, Pendidikan Islam menekankan banyak hal terutama dalam hal ilmu. Ilmu terdiri dari tiga huruf, yakni ‘ain, lam, mim. 

“Huruf ‘ain merujuk pada Illiyyin atau peningkatan derajat seseorang di tempat yang mulia. Sesungguhnya orang berilmu itu memiliki derajat tertentu. Pendis ingin menempatkan anak bangsa pada maqom mulia atau makhluk berderajat tinggi,” terangnya.  

Selanjutnya huruf lam merujuk pada latif. Karenanya, orang yang memiliki ilmu dia memiliki rasa dan kelembutan. “Dia memiliki potret yang bersahabat. Dia ramah bukan marah, membina bukan menghina, mengajak tidak mengejek, mengajar tidak menghajar, dan tampil dengan senyuman. Perilaku orang lain sangat tergantung cara kita menyampaikan. Pemilihan diksi penting. Orang berilmu itu pandai memilih kata,” jelasnya. 

Kemudian yang terakhir adalah mim yakni mulk atau raja. “Orang yang dibekali ilmu dia akan bahagia hakiki dunia akhirat. Dia akan menang perang. Perang melawan hawa nafsu. Hanya orang berilmu yang bisa melawan dirinya sendiri,” tutur Ramdhani.