Sekolah Mulai Lakukan PTM, Ini Rekomendasi IDAI

SD di Bali ini menerapkan PTM outdoor untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 di kelas. (Net/rmolsumsel.id)
SD di Bali ini menerapkan PTM outdoor untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 di kelas. (Net/rmolsumsel.id)

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan beberapa rekomendasi seiring pemberlakuan pembelajaran tatap muka (PTM) yang sudah dimulai di awal tahun 2022.


Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, untuk kategori anak usia 6-11 tahun, bisa melaksanakan metode hybrid yakni 50 persen luring dan 50 persen daring.

“Bisa dilakukan apabila tidak adanya peningkatan kasus Covid-19 dan transmisi lokal Omicron di daerah tersebut,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (2/1).

Menurut Piprim, apabila masih ditemukan peningkatan kasus Covid-19 serta tranmisi Omicron, IDAI merekomendasikan PTM dilakukan secara outdoor bagi 50 persen peserta didik yang luring.

Dalam melakukan PTM outdoor itupun harus memenuhi ketentuan yakni possitivity rate kasus Covid-19 di daerah tersebut berada di bawah 8 persen dan tranmisi lokal Omicron masih bisa dikendalikan. Fasilitas outdoor yang dianjurkan adalah halaman sekolah, taman, pusat olahraga, dan ruang publik terpadu ramah anak.

Sedangkan bagi anak usia di bawah 6 tahun, IDAI Belum menganjurkan PTM sampai dinyatakan tidak ada kasus baru atau peningkatan Covid-19 di daerah tersebut.

Oleh sebab itu, IDAI merekomendasikan untuk memberikan pembelajaran sinkronisasi dan asinkronisasi dengan metode daring dan mengaktifkan keterlibatan orang tua di rumah dalam kegiatan outdoor.

Selain itu, sekolah dan orang tua juga bisa melakukan kegiatan kreatif seperti mengaktifkan permainan di rumah, melakukan pembelajaran outdoor dengan modul yang diarahkan sekolah, dan mengutip rekomendasi permainan anak sesuai rekomendasi IDAI.

Bagi sekolah yang menggelar PTM secara full, IDAI merekomendasikan guru dan petugas sekolah harus sudah divaksin secara penuh.

“Untuk anak yang bisa masuk sekolah adalah anak yang sudah divaksinasi secara lengkap dua kali,” ucapnya.

Selain itu, sekolah tetap wajib menerapkan prokes dan memfokuskan pada pemakaian masker, ketersediaan cuci tangan, jaga jarak, dan tidak makan secara bersama. Sirkulasi udara dan sistem penapisan aktif per harinya juga harus menjadi fokus.