Tuntut Keadilan, Orangtua Korban Bullying di SMAN  OKU Timur Datangi DPRD Sumsel

Merasa tak mendapatkan keadilan, orangtua dan keluarga Bintang Satria Perdana (17), pelajar SMAN 4 Buay Madang , Kabupaten OKU Timur yang jadi korban bullying oleh teman temannya, datang ke Komisi V DPRD Sumatera Selatan/Foto: Dudy Oskandar
Merasa tak mendapatkan keadilan, orangtua dan keluarga Bintang Satria Perdana (17), pelajar SMAN 4 Buay Madang , Kabupaten OKU Timur yang jadi korban bullying oleh teman temannya, datang ke Komisi V DPRD Sumatera Selatan/Foto: Dudy Oskandar

Merasa tak mendapatkan keadilan, orangtua dan keluarga Bintang Satria Perdana (17), pelajar SMAN 4 Buay Madang , Kabupaten OKU Timur yang jadi korban bullying oleh teman temannya, datang ke Komisi V DPRD Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (15/11) sore.


Orangtua dan keluarga korban langsung melapor ke Komisi V DPRD Sumsel. Kedatangan mereka tidak lain untuk minta bantuan wakil rakyat, dalam memperjuangkan keadilan bagi mereka.

Keluarga korban diterima Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumsel, Mgs H Syaiful Fadli didampingi anggota Komisi V DPRD Sumsel Dra Hj Nilawati dan H.M. Anwar Al Syadat Ssi Msi .

Menurut, Yati, ibu korban, peristiwa menyedihkan itu terjadi tanggal 30 Maret 2022 beberapa saat setelah anak pulang sekolah. "Pas pulang sekolah anak saya dikeroyok oleh beberapa pelajar di sekolah yang sama. Akibatnya, anak saya luka luka dan dilarikan kerumah sakit," kata ibu ini sambil menitikkan air mata usai pertemuan dengan Komisi V DPRD Sumsel.

Dari hasil visum kepala bagian belakangnya retak. "Kalau saya ingat itu saya sangat sedih. Karena anak saya terluka parah akibat dikerorok temannya. Bukan hanya bagian belakang kepalanya yang retak, tetapi hidungnya berdarah dan rahangnya juga berdarah," kata Yati, sambil terbata bata.

Korban sempat dirawat  selama lima hari di Rumah Sakit RK Charitas Palembang walaupun sempat berpindah-pindah perawatan dari klinik dan rumah sakit setempat.

Korban sendiri kini menurutnya juga  telah dia pindahkan dari SMAN 4 Buay Madang ke sekolah lain.

Terkait masalah ini, pihak keluarga telah lapor ke Polres, namun polisi hanya menetapkan satu tersangka atas nama Ledy, padahal pelakunya banyak.

Dipersidangan di pengadilan negeri Baturaja, pelaku , Ledi hanya di vonis hanya enam bulan penjara dan tidak perlu menjalani putusan tersebut

"Karena merasa tidak dapat keadilan, maka kami melakukan banding di pengadilan setempat dan hasilnya tetap sama walaupun pelaku dianggap bersalah, hanya ada satu pelaku saja yakni Ledy," katanya.

Selain itu selama di kepolisian baik dari Polsek dan Polres pelaku juga tidak pernah di tahan sama sekali karena pelaku ada yang menjamin.

Untuk masalah ini pihaknya telah tanya ke polisi. Menurut mereka pelakunya hanya ditetapkan satu orang, karena saksi tidak bisa menyebutkan nama-nama pengeroyok lainnya, alasannya semuanya pakai seragam sekolah dan semuanya pakai masker.

Untuk itu, dia dan suami datang ke DPRD Sumsel minta bantuan guna mendapatkan keadilan. "Saya ingin semua pelaku ditangkap, bukan hanya Ledy. Selain itu, mereka juga harus mendapatkan hukuman yang setimpal," ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumsel, Mgs H Syaiful Fadli mengatakan, Komisi V telah menerima laporan dari korban tindak kekerasan yang dilakukan oknum pelajar dj SMAN 4 Buay Madang.

"Masalah ini sudah dilaporkan ke kepolisian setempat. Namun karena merasa tidak mendapatkan keadilan, dimana pelaku yang ditetapkan hanya satu orang dan itupun tidak menjalani hukuman. Maka mereka minta bantuan Komisi V untuk mendapatkan keadilan," katanya.

Karena pelaku, korban dan lokasi kejadiannya terjadi di wilayah SMAN 4 Buay Madang, maka pihaknya akan memanggil dinas pendidikan, kepala sekolah dan pihak terkait lainnya.

"Kita tidak ingin ada tindak kekerasan di lembaga pendidikan, apapun bentuknya. Oleh sebab itu, kami akan terus kawal kasus ini sampai semuanya mendapatkan keadilan," katanya.

Syaiful junga mengatakan, karena kejadian masih didepan pagar sekolah dan korban maupun pelaku masih berseragam sekolah dan berasal dari sekolah yang sama, maka pihak sekolah tidak bisa lepas tangan dari kasus ini.