Sumsel Jadi Tuan Rumah Festival Anak Soleh, Ketua Indonesia Mengaji Beri Pesan Ini

 Ketua Indonesia Mengaji Komjen Pol (Purn) Syafrudin (Kedua Kiri) saat tengah melakukan foto bersama dengan anggota BKPRMI /Foto: Mita Rosnita/RMOL
Ketua Indonesia Mengaji Komjen Pol (Purn) Syafrudin (Kedua Kiri) saat tengah melakukan foto bersama dengan anggota BKPRMI /Foto: Mita Rosnita/RMOL

Pelaksanaan Festival Anak Sholeh Nasional yang akan digelar di Sumsel dalam waktu dekat telah menjadi persiapan bersama bagi jajaran pengurus Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sumsel. 


Dalam Rapat Pimpinan Nasional yang turut dihadiri oleh hampir seluruh pimpinan wilayah BKPRMI se-Indonesia, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan telah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah dalam festival nasional tersebut, sehingga hal ini menjadi kehormatan baginya dan Sumsel saat menyambut para ustad-ustad muda yang berilmu agama tinggi.

"Kesepakatan yang dibucarakan hari ini yakni ditetapkannya Sumsel sebagai tuan rumah festival anak Sholeh Nasional yang ke 11, artinya perlu banyak hal yang harus dipersiapkan," katanya, Sabtu (22/1).

Sementara itu, Ketua DPW BKPRMI Sumsel Firdaus terkait jadwal pelaksanaan even nasional itu masih akan disesuaikan dengan kesepakatan bersama dalam rapat lebih lanjut. Apakah akan tetap dilaksanakan pada Maret 2022 atau dua minggu setelah lebaran, mengingat kondisi Covid-19 yang masih terbilang mengkhawatirkan.

"Jadwal pelaksanaannya kalau dibulan Maret maka kita punya 2 waktu bulan lagi dan jika diadakannya sesuai dengan situasi sekrang kita juga sudah mengatisipasi berapa kawal pemunduran jadwal mungkin kalau mundur dia 2 minggu setelah lebaran," ungkapnya kepada media. 

Lalu, dalam kesempatan yang sama Ketua Indonesia Mengaji Komjen Pol (Purn) Syafrudin turut mengingatkan bahwa dalam gelaran kegiatan besar perlu ditegaskan manfaat yang akan didapat setelahnya. Terlebih festival tersebut melibatkan pemuda masjid dan ustad-ustad muda dari berbagai wilayah di Indonesia, artinya penting untuk menyelaraskan kembali terkait pemahaman Al-Quran dan Islam.

"Saat ini sebesar 60 persen masyarakat muslim di Indonesia masih belum fasih dalam memahami Al-Quran. Artinya semangat dalam memperlajri Al-Quran dan mendekatkan diri pada islam perlu terus ditekankan, bukan hanya kegiatannya saja," ungkapnya. 

Dia kemudian menambahkan penting untuk sama-sama maju dalam hal meretas angka buta aksara Al-Quran di Indonesia, mengingat pertumbuhan jumlah penggunaan hijab bagi muslimah juga turut meningkat dan hal ini perlu disesuaikan kembali.

"Melalui rumah tahfidz yang ada kita semua bisa belajar. Berangkat dari sinilah, perlu juga diperhatikan kembali jumlah rumah tahfidz yang bisa dijangkau oleh masyarakat sebagi rumah belajar," tambah dia.

Terakhir dia berpesan agar Sumsel juga dapat mencontoh beberapa daerah dalam pembangunan rumah tahfidz dan pengelolaannya agar dapat dirasakan dan dekat dengan masyarakat.