Sejarah Perahu Bidar yang Menjadi Tradisi Tahunan di Sungai Musi Palembang

Masyarakat Palembang menyaksikan lomba perahu Bidar dalam memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di Tahun 1949/Foto: Arsip Nasional
Masyarakat Palembang menyaksikan lomba perahu Bidar dalam memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di Tahun 1949/Foto: Arsip Nasional

Lomba bidar dan perahu hias di kota Palembang rencananya kembali digelar tahun ini. Hiburan yang sudah menjadi tradisi tahunan masyarakat dalam merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) itu, sudah dua tahun vakum akibat pandemi Covid-19.


Berdasarkan cerita rakyat Lomba Perahu Bidar diawali oleh perlombaan bidar antara dua pangeran Palembang dengan seorang pemuda dari uluan.  Pertandingan bidar ini dipicu oleh perebutan seorang gadis bernama Dayang Merindu.

Di akhir pertandingan,  kedua pemuda tewas karena sama-sama kelelahan. Sementara sang puteri Dayang Merindu dikisahkan bunuh diri, karena tidak sanggup menahan kesedihan.

Sementara pada dokumentasi sejarah, Perlombaan Perahu Bidar telah diselenggarakan pada sekitar tahun 1898, saat perayaan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina. Ada cerita menyatakan bahwa dahulu para peserta lomba bidar penganggap Prasasti Kedukan Bukit adalah batu bertulis yang keramat. 

Oleh karena itu, para peserta lomba bidar selalu mengunjungi prasasti Kedukan Bukit sebelum perlombaan dimulai. Mereka meyakini akan dapat mendapat kekuatan gaib sehingga dapat memenangkan perlombaan jika mereka berkunjung ke Parasasti Sriwijaya yang ditemukan di tepian sungai Kedukan Bukit tersebut. 

Di masa Republik Indonesia,  Lomba Bidar atau menurut sebutan lokal dikenal dengan kenceran, menjadi tradisi untuk memeringati hari kemrdekaan dalam setiap tanggal 17 Agustus. 

Perlombaan Bidar pada tahun 90-an ke bawah sangat menarik perhatian masyarakat. Mereka sanggup berjejal-jejal dan berpanas-panas hanya untuk menyaksikan lomba bidar di tepian Sungai Musi, sekitara depan Benteng Kuto Besak. 

Potret masyarakat Palembang saat menonton Perahu Bidar di Sungai Musi pada tahun 1949/Foto: Arsip Nasional 

Kurang Perhatian Pemerintah, Lomba Bidar Makin Sepi Peminat?

Sayangnya, lomba bidar makin lama makin sepi. Hal ini disebabkan karena para peserta lomba bukan lagi dari masyarakat tetapi atas nama perusahaan besar yang ada di kota Palembang. Selain itu, kurangnya perhatian dan pembinaan dari Pemerintah merupakan penyebab makin melemahnya kualitas perlombaan Bidar.

Budayawan Sumatera Selatan Vebri Al Lintani menyesalkan   Festival Perahu Bidar saat ini semakin pudar dalam memperingati HUT RI setiap bulan Agustus.

Tidak hanya penyelenggaraannya, Festival Perahu Bidar juga kehilangan eksistensinya di tengah masyarakat sejak festival tersebut tidak melibatkan masyarakat secara khusus. 

Menurut Vebri, penyelenggaraan perahu bidar saat ini masih terselenggara namun lebih banyak di sponsori perusahaan sehingga tidak mempengaruhi minat masyarakat ikut terlibat apalagi menonton.

“Padahal Perahu Bidar dahulunya merupakan festival yang di selenggarakan menyambut Agustus. Mencerminkan budaya asli Palembang dengan kekhasanya Sungai Musinya. Namun tradisi ini makin hari seperti mulai ditinggalkan, banyak faktor yang menyebabkan itu diantaranya kurangya perhatian dan pembinaan dari pemerintah," katanya beberapa waktu lalu.

Lomba perahu Bidar di Sungai Musi Palembang pada tahun 2019/Foto:ist

Pemprov Sumsel Ambil Alih Penyelenggaraan Lomba Bidar

Setelah dua tahun absen akibat pandemi Covid-19, perhelatan lomba perahu Bidar tahun ini kembali digelar. Namun yang menjadi pembeda pada gelaran hiburan rakyat di Palembang kini diambil alih oleh Pemprov Sumsel, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel sebagai penyelengara.

Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kota Palembang, Khairul Anwar membenarkan hal tersebut, menurutnya tahun ini pihak pemkot terkendala anggaran.

"Tadinya event ini memang dari Pemkot Palembang, namun akibat terkendala anggaran, maka kita berkoordinasi dengan Pemprov Sumsel dan bisa terlaksana," kata Irul, sapaan akrab Khairul Anwar seusai rapat persiapan lomba bidar dan perahu hias, Selasa (2/8). 

Disebutkan Irul, perhelatan lomba event tersebut masih seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni berlokasi di Sungai Musi dengan jalur lintasan dari Dermaga Fery Dishub Kota Palembang hingga Benteng Kuto Besak (BKB). 

Untuk tanggalnya sendiri akan dilaksanakan selama dua hari pada 20-21 Agustus 2022 mendatang. Hal itu guna memaksimalkan performa dari para peserta. 

"Kalau biasanya itu satu hari, dimana perahu bidar dan hias bebarengan, kini kita buat dua hari. Untuk jadwalnya masih disusun, apakah hari pertama perahu hias dahulu atau perahu bidar dahulu, itu masih kita bahas," ungkapnya. 

Lebih lanjut, terkait persiapan teknis yang akan dilakukan, Irul mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan setiap instansi terkait yang bakal terlibat. 

Irul berharap agar pandemi Covid-19 di Kota Palembang dapat segera usai, sehingga pengelolaan lomba perahu bidar dan hias tahun depan dapat lagi dikelola oleh Pemkot Palembang. 

"Harapannya tentu kita dapat mengelola ini kembali, namun masih melihat dari anggaran ke depan bagaimana," pungkasnya.