Politisi, Pengusaha Hingga Rektor Dapat Gelar Kehormatan dari Kesultanan Palembang Darussalam

Foto bersama penerima Darjah Kehormatan Kesultanan Palembang Darussalam bersama Sultan Palembang, SMB IV Jayo Wikramo. (ist/rmolsumsel.id)
Foto bersama penerima Darjah Kehormatan Kesultanan Palembang Darussalam bersama Sultan Palembang, SMB IV Jayo Wikramo. (ist/rmolsumsel.id)

Kesultanan Palembang Darussalam memberikan gelar kehormatan kepada tiga tokoh Sumsel yang berkontribusi terhadap kelestarian adat dan budaya Palembang. Ketiga tokoh yang dimaksud yakni Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumsel, Ramlan Holdan.


Ramlan mendapat gelar Pangeran Nato. Lalu, Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Nyayu Khodijah mendapat gelar Putri Ayu Suryo dan Pengusaha yang juga Direktur PT Citra Nusantara Gemilang (CNG) Hilir Raya, Palembang, Hernoe Roesprijadji mendapat gelar Pangeran Kusumo.

Gelar yang disebut Darjah Kehormatan tersebut diberikan berbarengan dengan upacara Pengukuhan Kekerabatan Kesultanan Palembang oleh Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam di Jalan Sultan M Mansyur, 32 Ilir Palembang, Rabu (30/3) malam.

Sultan Palembang Darussalam, SMB IV Jayo Wikramo mengatakan, masing-masing gelar memiliki makna, predikat dan nama yang baik. “Kalau Nato pintar untuk mengatur , kalau Suryo memberi penerangan, jadi semua gelar-gelaran kami ini memiliki makna masing-masing,” kata Sultan usai pemberian gelar.

Dia menjelaskan, orang yang diberikan Darjah Kehormatan dianggap telah berjasa dalam menjaga kelestarian adat istiadat serta budaya Kesultanan Palembang Darussalam. Sehingga, kedepannya makin banyak yang ikut berkontribusi dalam melestarikan nilai-nilai Kesultanan Palembang Darussalam.

Diakuinya, Kesultanan Palembang Darussalam tidak bisa berdiri sendiri agar bisa menjadi besar. Sehingga, juga mengukuhkan Kekerabatan Kesultanan Palembang Darussalam yang terdiri berbagai kalangan seperti tokoh masyarakat, akademisi, tokoh masyarakat,  seniman, komunitas  , lembaga masyarakat, budayawan  instansi, sejarawan dan lain –lain.

“Insya Allah kedepan budaya dan  adat istiadat di Palembang ini bisa seperti dulu lagi mulai dari tata krama, mulai dari bebaso (berbahasa), kebiasaan sehari-hari bisa bernafaskan syariat Islam dan berakhlak yang baik,” katanya.

Putri Ayu Suryo Nyayu Khodijah menuturkan, gelar kehormatan ini merupakan salah satu bentuk upaya menghidupkan kembali Kesultanan Palembang Darussalam. Sehingga aspek-aspek budaya  seperti peradaban dan tradisi bisa dilestarikan.

“Hal tersebut sesuai sekali dengan nafas UIN Raden Fatah Palembang sebagai pusat kajian peradaban Islam melayu. Banyak yang sudah kita lakukan seperti penerjemahan Al Quran Bahasa Palembang  dan saat ini kita mengembangkan kurikulum bahasa Palembang untuk sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah,” bebernya.

UIN Raden Fatah Palembang terus memberikan dukungannya agar Kesultanan Palembang Darussalam ini bisa dihidupkan kembali dan dilestarikan.

“Tadi sudah ada wacana bagaimana menghidupkan dan mendirikan Istana Kesultanan Palembang Darussalam. Itu sangat bagus sehingga kedepan masyarakat Palembang akan  tahu sejarah  masa lalu. Aspek-aspek positif yang ada pada masa lalu  bisa dikembangkan kembali,” ucapnya.

Pangeran Nato Ramlan Holdan menuturkan gelar ini merupakan amanah untuk bersama-sama  mengawal adat istiadat di Kesultanan Palembang Darussalam. Menurutnya, banyak hal yang masih menjadi pekerjaan rumah kedepannya dalam pelestarian kebudayaan Palembang. Salah satunya melestarikan berbagai peninggalan buatan sultan terdahulu.

“Seperti Benteng Kuto Besak ini menjadi kerja kita sama-sama untuk menjadikan Benteng Kuto Besak ini menjadi aset  budaya Kesultanan Palembang, silahkan siapapun yang memilikinya apakah TNI, atau Pemerintah Daerah,  silahkan, yang penting bisa dinikmati karena ini bukan hanya aset TNI atau Pemerintah Daerah tapi milik masyarakat,” bebernya.

Pangeran Kusumo Hernoe Roesprijadji mengatakan, dengan gelar ini dirinya sudah menjadi  bagian dari Kesultanan Palembang Darussalam dan memiliki tugas dan tanggung jawab secara moral  untuk memelihara dan melestarikan kebudayaan Kesultanan Palembang Darussalam.

“Saya pribadi tidak lagi  akan berbicara bahwa kesukuan saya sudah sah menjadi warga Palembang, wong (orang) Palembang nian, karena menjadi wong Palembang maka  kiprah, tingkah laku, pengabdian adalah untuk kemajuan, kemakmuran  masyarakat Palembang,” tandasnya.