Pembunuhan Pemred Media di Siantar Diotaki Mantan Cawalkot

Kapolda Sumatra Utara Irjen Panca Putra bersama Pangdam Bukit Barisan Mayjen Hasanuddin menunjukan senjata yang digunakan pelaku menghabisi nyawa Mara Salem Harahap. (Net/rmolsumsel.id)
Kapolda Sumatra Utara Irjen Panca Putra bersama Pangdam Bukit Barisan Mayjen Hasanuddin menunjukan senjata yang digunakan pelaku menghabisi nyawa Mara Salem Harahap. (Net/rmolsumsel.id)

Polda Sumatra Utara berhasil mengungkap otak pembunuhan Mara Salem Harahap, pemimpin redaksi media online lokal. Dia adalah Sujito, mantan Calon Wali Kota (Cawalkot) Siantar pada Pemilu 2015.


Dari hasil pemeriksaan, Sujito diketahui memerintahkan seorang oknum anggota TNI berinisial A atau H untuk menghabisi nyawa Mara Salem.

Kapolda Sumatra Utara, Irjen Panca Putra menegaskan, pihaknya bersama dengan Pangdam Bukit Barisan Mayjen Hasanuddin telah berkomitmen siapapun yang terlibat ditindak tegas meskipun pembunuhan tersebut melibatkan oknum TNI.

“Makanya Pangdam hadir di sini. Perhatikan, saya sudah sampaikan siapapun yang bersalah, kita tindak tegas. Enggak usah dibawa kemana-mana,” kata Kapolda saat memberi keterangan pers di Mako Brimob Pematang Siantar, Kamis (24/6).

Mantan Direktur Penyidikan KPK ini menyampaikan, senjata yang digunakan pelaku bukan milik kesatuan TNI. Diduga kuat senjata tersebut dibeli dari perdagangan gelap.

“Senjata itu diduga berasal dari perdagangan ilegal. Itu senjata pabrikan. Nomor registernya jelas, buatan Amerika. Senjata pabrikan belum tentu masuk dengan benar dan milik kesatuan. Tolong dicatat baik-baik, bisa saja ini masuk dari penggelapan dan perdagangan ilegal. Ini tidak teregister di kesatuan. Nomor registernya ada dan ini akan kami dalami terus,” papar Kapolda.

Pembunuhan tersebut dilatarbelakangi sakit hati terhadap korban. Di situ, tersangka Sujito meradang karena korban sering memberitakan peredaran narkotika di tempat hiburan malam Ferrari miliknya.

Kemudian, Sujito meminta A atau H dan YFP seorang anak buahnya yang bekerja di diskotik memberi pelajaran kepada korban. Ia kemudian mengirim uang sebesar Rp 15 juta untuk membeli senjata api jenis pistol pabrikan USA.

Selanjutnya tersangka A alias H dan YFP menuju warung tuak untuk membuntuti korban. Kemudian kedua tersangka menuju rumah korban di Desa Karang Anyer, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun pada malam sebelum korban ditemukan meninggal dunia.