Pelita Air Service Layani Regular Flight, Garap Pasar Domestik yang Potensial 

Tradisi Water Salute sebelum pesawat Pelita Air terbang perdana menuju Bali dari Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (28/4). (erickthohir/rmolsumsel.id)
Tradisi Water Salute sebelum pesawat Pelita Air terbang perdana menuju Bali dari Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (28/4). (erickthohir/rmolsumsel.id)

Pelita Air Service resmi melakukan penerbangan perdana hari ini menandai masuknya anak usaha PT Pertamina (Persero) ke penerbangan komersial berjadwal Tanah Air.


Penerbangan perdana Pelita Air menggunakan pesawat Airbus A320-200 melayani rute Jakarta dari Terminal III Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (28/4). Pada tahap awal ini, rute dan jadwal penerbangan tersebut memiliki frekuensi 1 kali per hari.

Penerbangan perdana tersebut dilepas oleh Menteri BUMN Erick Thohir, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, dan Direktur Utama PT Pelita Air Service Dendy Kurniawan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir mengatakan, potensi penerbangan domestik di Indonesia sangat besar. Sebelum pandemi Covid-19, sebanyak 70 persen industri pariwisata Indonesia adalah domestik dan 28 persen turis internasional.

Untuk itu, Pelita Air Service sebagai anak usaha BUMN harus memfokuskan diri menjadi salah satu tulang punggung untuk pembangunan industri penerbangan domestik. Ini merupakan potensi market yang sangat besar yang harus dimanfaatkan. Apalagi saat ini, ekonomi sudah mulai bangkit tetapi masyarakat mendapatkan tiket yang mahal.

“Karena itu, dari Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, dan tentu Kementerian lain, kita bersepakat mengintervensi. Kita tidak mau market Indonesia yang besar ini juga menjadi monopoli atau oligopoli. Sejalan dengan nafas ekonomi bangsa ini yaitu ekonomi yang merata dan menyejahterakan. Pasar bebas boleh, tapi keseimbangan harus terjadi. Karena tidak mungkin negara sebesar ini harus tunduk oleh bangsa lain atau pasar yang besar ini harus dimonopoli oleh sebagian saja,” ujar Erick.

Menurutnya, Pelita harus menjadi bagian dari paradigma baru untuk menyehatkan industri penerbangan Indonesia, dan tidak boleh terjadi kesalahan, sehingga harus dikelola dengan good corporate governance secara transparan dengan fokus market domestik sebagai sebuah kesempatan bagi Pelita menjadi besar.

“Dengan niat baik hari ini, Pelita bisa terbang tinggi. Pelita juga akan menjadi perusahaan domestik yang bisa bersaing secara global,” imbuh Erick.

Direktur Utama PT Pelita Air Service (PAS), Dendy Kurniawan menyampaikan, selama ini PAS telah memiliki pengalaman melayani penerbangan charter dari kepresidenan, kementerian/lembaga dan swasta, terutama industri Migas nasional.

Dengan reputasi dan pengalaman tersebut disertai peluang besar di sektor komersial penerbangan berjadwal untuk mendukung konektivitas nasional serta didorong oleh Pemerintah dan stakeholders, PAS memperluas usahanya dengan melayani penerbangan komersial berjadwal dengan rute Jakarta - Bali - Jakarta dengan pesawat Airbus A320-200 berkapasitas 180 kursi.

“Tentunya penerbangan hari ini akan segera disusul dengan penerbangan frekuensi tambahan penerbangan selanjutnya ke destinasi-destinasi baru yang ada di Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Dendy, Pelita Air menargetkan bakal mengoperasikan 20 pesawat untuk melayani rute domestik. Kedatangan pesawat untuk Pelita Air Service akan bertahap hingga tahun depan.

“Pesawat terus berdatangan, nanti yang ketiga pertengahan Mei ini akan datang. Terus yang tiga lagi diperkirakan akhir tahun. Insyaallah tahun depan kita bisa sampai 20 unit,” kata Dendy.