Media dan Jurnalis Didorong Lebih Aktif Suarakan Isu Lingkungan

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumsel. Foto: IST
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumsel. Foto: IST

Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) mendorong segenap pengelola media dan jurnalis melakukan instropeksi terkait kerja-kerja yang sudah dilakukannya selama ini.


Minimal membantu proses pemulihan bumi lewat karya-karya jurnalistiknya.

Ketua Umum SIEJ, Rochimawati mengatakan, Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah untuk menyoroti pentingnya lingkungan dan mengingatkan bahwa alam tidak boleh dianggap remeh.

“Dalam pengamatan kami, penyebaran informasi terkait kondisi lingkungan hidup semakin bertambah dari waktu-waktu. Baik dari sisi kuantitas dan kualitas. Tapi, masih banyak hal terkait lingkungan hidup yang bisa didalami dan diceritakan dengan lebih komprehensif kepada publik oleh media dan jurnalis," kata Rochimawati, dalam keterangannya, Sabtu (5/6).

Menurutnya, ambisi pemerintah yang hendak mewujudkan setengah juta kendaraan listrik perlu dipandang secara menyeluruh. Alih-alih mengurangi pemanfaatan energi fosil, dukungan kepada industri mobil listrik perlu dikawal terkait kegiatan pertambangan nikel yang berpotensi jadi bencana di bagian timur Indonesia.

Keterlibatan Indonesia pasca Paris Agreement pada The Conference of Parties (COP) dan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) ke-21 pada 2015 lalu, dalam konteks transaksi jual beli sertifikat emisi karbon, juga belum memperlihatkan hasil yang menggembirakan.

Bahkan, catatan Forest Watch Indonesia tahun 2000-2017 memperlihatkan Indonesia telah kehilangan hutan alam lebih dari 23 juta hektare. Ini setara dengan 75 kali luas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sumber lainnya, World Resources Institute menempatkan Indonesia pada posisi tiga sebagai negara yang paling banyak kehilangan hutan hujan primer akibat deforestasi. Konversi hutan jadi perkebunan kelapa sawit, lokasi pertambangan, dan kebakaran hutan ditengarai sebagai penyebab utama terjadinya deforestasi.

Selain itu, ada 12 proyek pembangkit listrik tenaga sampah yang didukung Pemerintah. Meski sudah banyak kritik dan masukan dari pemerhati lingkungan soal dampak bahaya dari proses pembakaran sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tetap mendorong terealisasinya belasan proyek tersebut.

Menjaga dan ikut merawat bumi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Untuk itu,  SIEJ mengajak seluruh jurnalis di Indonesia untuk tidak bosan dan lelah mengangkat berbagai topik seputar lingkungan hidup dalam praktik kerjanya sehari-hari. "Hal itu merupakan harapan dan bentuk partisipasi jurnalis yang berpihak pada lingkungan,” kata Rochimawati.