Limpasan Limbah Cair Muara Alam Sejahtera Anak Usaha Baramulti Grup Diduga Cemari Sungai Tabu

Ilustrasi sungai. (ist/rmolsumsel.id)
Ilustrasi sungai. (ist/rmolsumsel.id)

Puluhan masyarakat yang berada di kawasan Kecamatan Merapi Barat mengajukan protes terhadap operasional PT Muara Alam Sejahtera (MAS). Pasalnya, aktivitas penambangan perusahaan tersebut diduga menjadi penyebab kekeruhan yang melanda Sungai Tabu. 


Berdasarkan penelusuran, kekeruhan diduga berasal dari limpasan limbah cair dari outlet setting pond limbah cair dari outlet setting pond PT Muara Alam Sejahtera yang mengalir ke salah satu saluran mudtrap yang bermuara ke Sungai Tabu. 

"Hasil penelusurannya, pencemaran itu diduga terjadi lantaran adanya limpasan limbah cair di areal perusahaan (PT MAS) yang mengalir ke Sungai Tabu," kata salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya. 

Menurut sumber tersebut, sekitar 54 warga terkena dampak pencemaran tersebut. "Sebab, Sungai Tabu ini masih digunakan untuk mengairi perkebunan dan lahan pertanian. Sehingga akibatnya, banyak tanaman warga yang mati," ungkapnya. 

Selain itu, aktivitas warga sehari-hari juga tidak bisa dilakukan lantaran tercemarnya sungai. "Kami meminta kepada pemerintah untuk menindak tegas perusahaan dan mengembalikan kondisi sungai seperti semula," ucapnya. 

Sungai Tabu sendiri pada 2023 lalu menjadi salah satu dari lima sungai di Kabupaten Lahat yang mengalami pencemaran. Sementara empat sungai lain yakni Sungai Lawai, Sungai Kungkilan, Sungai Lematang Bendungan dan Sungai Puntang. 

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lahat saat itu menyebut, kelima sungai memiliki tingkat pencemaran tinggi yang diukur dari delapan parameter kunci. Yaitu parameter PH (tingkat keasaman), BOD (kandungan oksigen biological), COD kandungan oksigen kimia, TSS (tingkat kekeruhan), DO (kandungan oksigen), NO3 (kandungan nitrat), Total Phosphat (kandungan kealamian sungai) dan Fecal coliform (kandungan kotoran) alias bakteri E-coli.

"Hasil pengujian, kelima sungai melebihi batas standar kualitas yang ditetapkan. Pencemaran paling tertinggi berada di parameter Fecal coliform (bakteri E-coli)," kata Kepala DLH Lahat, Agus Salman seperti dilansir dari tribun Sumsel.  (Baca : https://sumsel.tribunnews.com/2023/09/08/5-sungai-di-lahat-tercemar-bakteri-coliform-aktivitas-mck-di-sungai-penyebab-pencemaran). 

Sebelumnya, aktivitas PT MAS juga disebut sebagai salah satu sumber pencemaran di Sungai Kungkilan. Pada Oktober 2009, sejumlah warga Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat, mengeluhkan aktivitas PT Muara Alam Sejahtera (PT MAS) dan PT Bara Alam Utama (PT BAU), yang diduga mencemari Sungai Kungkilan dengan limbah batubara mereka. 

Stockpile yang berada cukup dekat dengan Sungai Kungkilan membuat warga merasakan dampaknya. Sejak munculnya aktivitas pertambangan batubara saat itu, warga desa merasakan adanya perubahan. 

Mulai dari ikan yang mulai berkurang, perubahan warna air sungai yang menjadi kehitaman, sehingga warga tidak lagi bisa memaksimalkan air sungai yang bermuara ke Sungai Lematang ini. (Baca: http://harianlahat.blogspot.com/2009/10/limbah-batu-bara-pt-mas-cemari-sungai.html).

Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi sudah dilayangkan ke PT MAS melalui Kepala Teknik Tambang (KTT), Agus. Namun, pesan singkat yang dikirim wartawan tidak mendapat respons.