KPK Fokus Selesaikan Tunggakan Perkara Terkait Dugaan Suap Izin Tambang di Konawe Utara

Jubir KPK Ali Fikri/RMOL
Jubir KPK Ali Fikri/RMOL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkomitmen menyelesaikan perkara tunggakan pimpinan sebelumnya. Salah satu kasus yang akan ditindaklanjuti adalah terkait dugaan suap pemberian izin kuasa pertambangan eksplorasi dan eksploitasi serta izin usaha pertambangan operasi produksi, dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe Utara tahun 2007-2014.


Perkara tersebut menjerat mantan Bupati Konawe Utara, Aswad Sulaiman yang telah ditetapkan sebagai tersangka sejak 2017 lalu.

Pelaksana tugas (Plt) Jurubicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri mengatakan, pihaknya masih fokus menyelesaikan perkara Aswad Sulaiman.

"Perkara ini sudah lama, tunggakan masa kepemimpinan KPK beberapa tahun lalu. Namun saat ini kami berkomitmen segera tuntaskan," ujar Ali kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (25/4).

Ali pun mengaku, pihak penyidik membuka peluang untuk kembali memeriksa mantan Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman sebagai saksi. Langkah hukum pemeriksaan sebagai saksi pernah dilakukan lembaga anti rasuah pada 18 November 2021 lalu.

"Pemanggilan saksi merupakan kebutuhan penyidikan. Jika dibutuhkan pasti kembali diperiksa sebagai saksi," pungkas Ali.

Selain Amran, KPK juga telah memeriksa sejumlah pengusaha lain. Beberapa diantaranya, yaitu Rahmat Sorau selaku Wiraswasta; Herry Asiku selaku Direktur PT Sinar Jaya Ultra Utama; Yunan Yunus Kadir selaku Direktur PT Cinta Jaya; Tri Wicaksono alias Soni selaku Direktur Utama PT KMS 27; dan Romi Rere selaku Direktur PT Mahesa Optima Mineral.

Dalam perkara ini, KPK hingga saat ini belum resmi melakukan penangkapan atau penahanan terhadap Aswad yang diduga merugikan negara hingga Rp 2,7 triliun. Aswad juga diduga menerima suap sebesar Rp 13 miliar.

Aswad disebut melakukan praktik rasuah saat menjabat sebagai Bupati Konawe Utara 2007-2009 dan Bupati Konawe Utara 2011-2016. Aswad diduga memberikan izin pertambangan dengan melawan aturan hukum.