Kopi Sumsel Butuh Brand Supaya Bisa Dikenal

Ketua Dewan Kopi Sumsel, Zain Ismed. (humaidy kenny/rmolsumsel.id)
Ketua Dewan Kopi Sumsel, Zain Ismed. (humaidy kenny/rmolsumsel.id)

Sekitar 25 persen ekspor kopi di Indonesia berasal dari Sumsel. Hanya saja, nama kopi Sumsel sendiri tidak begitu dikenal di tingkat nasional maupun dunia. Kopi asal Sumsel masih kalah pamor dengan Provinsi Lampung, Jambi dan beberapa daerah lain yang notabene produksi kopinya tidak sebanyak Sumsel.


Ketua Dewan Kopi Sumsel Zain Ismed mengatakan, dikenalnya kopi asal daerah lain disebabkan memiliki brand dengan citra rasa yang khas dan langsung bisa dikenali. “Di Lampung itu ada Robusta Lampung. Kemudian di Jambi ada Kopi Kerinci. Sementara Sumsel, kita masih belum memiliki brand khas yang menonjol,” kata Ismed saat Rapat Koordinasi Dalam Rangka Realisasi Pemasaran Hasil Panen Kopi Sumsel Senin (29/11).

Dia menyebutkan, Sumsel sudah memiliki banyak merk kopi dari berbagai daerah. Seperti Kopi Semendo dari Muara Enim, Kopi Dempo dari Pagaralam dan beberapa merek kopi lainnya. Namun, untuk brand, belum ada yang begitu dikenal.

 “Kita sudah banyak merk, tapi kita tidak ada brand pasti kopi asal Sumsel. Ingat ya brand itu beda dengan merk,” ujarnya.

Ismed menambahkan salah satu alasan susahnya membuat brand karena dari setiap kabupaten yang memiliki kopi akan mengklaim kopi mereka yang terbaik. Sehingga upaya kerjasama untuk menyatukan nama itupun tidak ada.

Untuk itu, Ismed menyarankan agar setiap wilayah penghasil kopi untuk dapat menyatukan pendapat dan membuat brand untuk meningkatkan produksi kopi dari Sumsel.

“Kita ingin sekali Sumsel memiliki brand kopi yang satu, baik dari manapun daerahnya tentu akan satu tujuan dengan satu nama,” pungkasnya.

Selain itu, alasan lain adalah kualitas dari kopi Sumsel ini tidak begitu baik dibanding dengan kualitas kopi dari provinsi lain. Hal ini karena pengolahan kopi yang masih sangat tradisional dan salah dalam prosedurnya.

“Kita lihat bahwa pengolahan kopi di Sumsel ini sedikit buruk ya, seperti dijemur dijalan dan dilindas kendaraan. Lalu cara panen yang tidak memisahkan biji yang sudah merah atau masih hijau,” ucapnya.

Menurut Ismed memang akan sedikit susah untuk mengubah hal yang sudah turun temurun terjadi di masyarakat dan sudah menjadi kebiasaan tersebut. Namun dengan langkah pasti serta solusi yang tepat akan perlahan merubah dan menjadikan kualitas kopi dari Sumsel membaik.

Lalu, Dewan Kopi Sumsel yang sudah berdiri sejak 2018 tersebut juga mengajak para duta kopi dan perwakilan tiap kabupaten kota penghasil kopi agar memperbanyak diskusi dengan Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) ataupun Dewan Kopi Sumsel. “Untuk membuka pikiran serta referensi ya,” tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel melalui Kepala Bagian Produksi Biro Perekonomian mengatakan mendukung upaya untuk memberikan brand kepada kopi asal Sumsel untuk bisa bersaing dan menjadi identitas dari Sumsel yang baru.

“Kita juga berjuang ya agar kopi akan sama terkenalnya dengan pempek. Sehingga saat orang mendengar kata Palembang atau Sumsel, maka kopi juga akan terlintas dipikirannya,” ungkapnya.

Dia berharap agar budaya minum kopi di Sumsel bisa ditingkatkan sehingga mendukung juga pemasaran kopi di dalam negeri.

“Mengingat sekarang sudah banyak kedai kopi dan didominasi oleh anak muda, semoga budaya minum kopi bisa mengingkat, karena Indonesia untuk negara pengonsumsi kopi masih berada jauh di bawah,” tandas dia.