Ketua AGSI Hibahkan Baju Angkinan Warisan ke Museum Balaputra Dewa

Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel Candra Amprayadi menerima serahan koleksi pribadi Ketua AGSI Sumsel Merry Hamraeny dan guru SMP Negeri 50 Anna Maria. (Dudy Oskandar/rmolsumsel.id)
Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel Candra Amprayadi menerima serahan koleksi pribadi Ketua AGSI Sumsel Merry Hamraeny dan guru SMP Negeri 50 Anna Maria. (Dudy Oskandar/rmolsumsel.id)

Koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa bertambah dengan diterimanya hibah baju Angkinan dan barang antik berupa mesin jahit dan kotak uang kuno.


Baju Angkinan ini merupakan koleksi pribadi Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Sumsel, Merry Hamraeny. Sedangkan mesin jahit dan kotak uang kuno milik guru SMP Negeri 50 Anna Maria.

Merry mengatakan, baju tersebut merupakan warisan dari orang tua yang menjadi pakaian pengantin pada tahun 1960. Baju itu juga digunakannya saat menikah pada tahun 1989.

“Histori baju ini sangat panjang, waktu itu belum ada nama dan selanjutnya baru disematkan nama Angkinan untuk baju ini,” kata Mery saat penyerahan koleksinya ke Museum Balaputra Dewa, Rabu (18/5).

Menurut Merry, keistimewaan baju Angkinan ini terletak pada benang emas yang mempercantik pakaian adat tersebut. Keindahan baju ini sempat dipakai saat Simposium Nasional AGSI di Palembang beberapa waktu lalu.

“Benang emas yang masih bagus itu yang membuat saya tertarik sehingga punya keinginan untuk merawatnya. Namun saya sendiri belum tentu bisa merawatnya. Untuk itulah, dengan rasa kesadaran, saya berinisiatif pakaian pengantin ini saya serahkan kepada negara, dalam hal ini adalah Museum Negeri Sumatera Selatan,” ujar Merry.

Merry menyampaikan, baju Angkinan koleksinya ini sudah lebih dari setengah abad karena ada sejak tahun 1960. Meski saat itu belum ada nama, baju ini diklaim berasal dari Kabupaten OKU Timur.

“Prediksi saya, baju ini berasal dari Kayuagung. Namun karena OKI dan OKU berdekatan sehingga wajar saja kalau milik OKU Timur. Mungkin ini perlu penelitian lebih lanjut,” ucap Merry.

Merry pun berharap baju koleksinya yang diserahkan itu bisa masuk ke dalam cagar budaya karena usianya lebih dari 60 tahun. Untuk itulah, pihaknya mempercayakan Museum Negeri Sumatera Selatan untuk merawat baju antik tersebut.

“Baju ini sudah ada sebelum ibu saya menikah dan kini umur ibu saya menginjak 80 tahun. Saya berharap baju ini bisa terus terawat sehingga bisa menjadi bahan edukasi bagi masyarakat saat ini,” katanya.

Sementara Anna Maria menerangkan, dua benda kuno tersebut milik orangtuanya. Daripada tidak terurus lebih baik diserahkan di museum untuk dijaga dan dirawat.

“Kedua benda ini dibawa langsung dari Jawa ke Sumsel,” terangnya.

Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel, Candra Amprayadi mengapresiasi hibah benda antik tersebut. Menurutnya, hal tersebut semakin memperkaya koleksi museum yang diharapkan dapat menambah daya tarik masyarakat dan wisatawan berkunjung.

“Memang kepercayaan masyarakat untuk menyerahkan koleksi pribadinya ke museum akhir-akhir ini semakin tinggi. Terbukti koleksi museum yang bersumber dari hibah dalam dua tahun terakhir terus bertambah,” tuturnya.