Jumlah Hotspot Naik 349 Titik, BPBD Sumsel: Untuk Kategori Besar Baru Tiga Kali!

Petugas Manggala Agni berusaha memadamkan kebakaran lahan di Ogan Ilir, Sumsel, beberapa waktu lalu. (m hatta/rmolsumsel.id)
Petugas Manggala Agni berusaha memadamkan kebakaran lahan di Ogan Ilir, Sumsel, beberapa waktu lalu. (m hatta/rmolsumsel.id)

Jumlah hotspot (titik api) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) hingga medio Juni 2021 ini terus bertambah. Mulai terdeksi ada 11 titik pada Januari, Februari 17 titik, Maret 49 titik, April 122 titik, Mei 139 titik, hingga Juni ada 11 titik. Nah, total hotspot yang muncul di Sumsel sudah mencapai 349 titik.


Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Iriansyah melalui Kabid Penanganan Kedaruratan, Ansori mengatakan, meski jumlah hotspot mengalami peningkatan, namun sebagian besar bukan berasal dari aktifitas kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah). Untuk kejadian Karhutlah sendiri, sepanjang 2021 baru sebanyak tiga kali.

“Untuk kategori besar baru tiga kali. Sejauh ini, hotspot yang timbul disebabkan aktifitas lain diluar Karhutlah,” kata Ansori saat dibincangi rmolsumsel.id, Rabu (2/6).

Ansori menuturkan, saat ini sejumlah daerah rawan Karhutlah telah membentuk posko gabungan di wilayah masing-masing. Hanya saja, sejauh ini baru dua daerah yang sudah memobilisasi personel ke posko gabungan. Seperti di Kabupaten Ogan Ilir pada Simpang Gas dan Musi Banyuasin (Muba) di Kawasan Medak.

“Ogan Ilir sudah dua kali kejadian Karhutlah. Makanya mereka telah membentuk posko gabungan. Selain itu, Manggala Agni juga telah membuat posko di lapangan,” tutur dia.

Pada tingkat provinsi sendiri, jelas dia, saat ini masih pada persiapan untuk memobilisasi personel dan peralatan.

“Kami terus memantau hotspot di aplikasi satelit dan laporan personel di lapangan. Mungkin dalam waktu dekat ini baru akan memobilisasi personel ke posko gabungan,” jelas dia.

Iriansyah melanjutkan, meningkatnya eskalasi hotspot dan firespot juga membuat BPBD Sumsel mengusulkan kegiatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Namun, hingga kini pelaksanaannya masih menunggu persetujuan.

“Kita sudah usulkan berbarengan dengan tambahan bantuan operasional helikopter patroli dan waterbombing. Namun, sejauh ini baru helikopter saja yang disetujui. Untuk TMC masih belum,” tandas dia.