Jualan Pakai Mobil Jadi Tren di Palembang, Ini Alasannya

Para pedagang yang menjajakan dagangannya dengan menggunakan mobil. (Mita/rmolsumsel.id)
Para pedagang yang menjajakan dagangannya dengan menggunakan mobil. (Mita/rmolsumsel.id)

Jualan menggunakan mobil kini menjadi tren di Kota Palembang. Hal ini terlihat disepanjang kawasan Jakabaring dan Jalan Kampus POM IX Palembang.


Berdasarkan pantauan, sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terlihat berjajar memarkirkan mobilnya di bibir jalan. Mereka kemudian, menggelar barang dagangannya baik dari dalam mobil hingga menyediakan meja kecil.

Salah seorang pedagang, Rian, 24, mengaku menggelar dagangannya menggunakan mobil ini dikarenakan keterbatasan modal untuk menyewa kedai ataupun lapak. Karena itu, dia terpaksa menggunakan mobil dan memarkirkannya di kawasan Jalan Balap Sepeda Eks Kampus POM IX Palembang.

“Saya sudah satu tahun berdagang di sini, kalau untuk menyewa lapak jujur saja rasanya agak berat. Mengingat kami yang jualan di sini tidak mengeluarkan sewa kecuali uang keamanan,” katanya, Senin, (20/9).

Selain itu, laki-laki yang menjajakan kuliner kreasi Dogan Jelly (Dolly) juga menyebutkan bahwa dengan penghasilan sebesar lima juta perbulan masih sangat sulit untuk membuka tempat usaha sendiri apalagi kalau harus menyewa denga kondisi pandemi.

“Selama pandemi ini kayaknya kita agak kesulitan untuk menyewa tempat apalagi di mall, takutnya modal yang dikeluarkan sudah banyak, tapi keuntungan yang mengalir malah sedikit,” tambahnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Iwan. Pedagang sepatu ini mengaku sudah dua tahun menggeluti usaha sepatu. Namun, sejak beberapa bulan terakhir dia menjajakan sepatu dengan menggunakan mobil pribadinya. Menurut Iwan, sangat sulit untuk menyewa tempat. Apalagi, di Kawasan Pasar 16 Ilir yang sudah padat pedagang.

Dengan menggunakan mobil ini maka dia mengaku tidak perlu membaya sewa atau pungutan pajak. Sehingga dapat meringankannya. Apalagi, sejak pandemi dagangannya sepi sehingga tidak mungkin untuk berjualan di pasar apalagi di mall.

"Paling dalam sehari kami hanya mengeluarkan uang keamanan saja sebesar Rp5 ribu untuk keamanan," katanya.

Menanggapi maraknya fenomena tersebut, Kepala BPPD Palembang, Sulaiman Amin menyayangkan tren berjualan menggunakan mobil tersebut. Karena menurutnya kegiatan ini mengganggu aktivitas pengguna jalan di sekitar. Hal ini tentunya melanggar aturan lalu lintas dan perlu penertiban dari pihak Dishub.

"Ini nanti pasti akan menjadi penyebab jalan macet,” katanya.

Meski demikian, memang jualan menggunakan mobil sejauh ini tidak dipungut pajak. Karena, ada beberapa lapak yang menjadi wewenang atas penarikan pajak usaha ialah yang memiliki usaha yang bersifat tetap sesuai dengan ketentuan peraturan daerah yang ada.

“Kami hanya menentukan pajak bagi tempat-tempat yang sudah punya nota izin usaha, yang apabila usaha itu berupa tempat makan artinya menyediakan kursi dan meja, kalau inikan pembeli take away,” pungkasnya.