Jelang Diksar, Mapala UIN Raden Fatah Upayahkan Tak Ada Kecelakaan di Gunung

Mapala UIN Raden Fatah/ist
Mapala UIN Raden Fatah/ist

Menjelang Diksar yang akan dilakukan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UIN Raden Fatah Palembang, panitia memastikan telah melakukan persiapan yang matang. Agenda tahunan tersebut juga diupayakan akan berjalan dengan semestinya dengan meminimalisir kecelakaan di gunung. 


Ketua Umum Mapala, Muhammad Julian Aji Saputra menyebut bahwa pelaksanaan Pelatihan dan pendidikan dasar (Pladiksar) tersebut akan dilaksanakan pada 25 September mendatang di Gedung Dakwah B UIN Raden Fatah Palembang. 

"Kami targetkan mencetak kader yang memiliki mental dan fisik yang kuat, kesederhanaan, menjunjung tinggi asas persaudaraan dan kekeluargaan yang mana ini nanti akan menjadi kegiatan mereka ketika terjun ke alam," ujar.

Ia menambahkan dengan adanya target ini tidak hanya berguna di alam saja, tapi juga dapat menjadi bekal mereka sebagai mahasiswa yang akan terjun ke lingkungan masyarakat.

"Alhamdulillah, selama 30 tahun kegiatan Pladiksar ini, tidak pernah terjadi hal-hal yang negatif," ujarnya.

Aji berharap dengan adanya kegiatan ini bisa melahirkan generasi yang siap dalam menjalankan roda organisasi, serta dapat membanggakan dan mempertahankan eksistensi Mapala. 

Ketua Pelaksana Diksar ke-30, Rahmat Kurniadi mengatakan bahwa persiapan Diksar ini sudah matang, dengan di isi oleh pemateri-pemateri yang berkompeten dibidangnya.

"Diksar kampus berisi materi mengenai materi-materi keilmuan, selanjutnya ada sesi Mental Ideologi, khusus untuk melatih mental. Pladiksar terakhir adalah Tahap Alam yang mana semua yang dipelajari sebelumnya, diterapkan di alam, misalnya penyelamatan, navigasi dan lain sebagainya," jelasnya.

Rahmat melanjutkan, Mapala telah mengantongi perizinan dari Satuan Petugas (SATGAS) Covid-19 UIN Raden Fatah Palembang. Mapala juga terus berkiblat ke Standar Operasional Prosedur (SOP) dari pihak kepolisian dan Kodam II Sriwijaya sehingga tidak terjadi peloncoan kepada calon-calon anggota. 

"Sebenarnya yang kejadian meninggal itu bukan karena penyiksaan, tapi karena kecelakaan saja. Siapa sih yang mau anggotanya tersiksa dan meninggal? Kan ga ada, dari Mapala sendiri pun tidak mungkin,” katanya.

Menanggapi kasus-kasus yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat atas kasus perpeloncoan atau penyiksaan hingga menyebabkan meninggal dunia, Rahmat mengatakan sejauh ini Mapala tetap memegang erat SOP untuk meminimalisir hal tersebut.