Jadi Gerbang Penyelundupan Barang, Dishub Sumsel Bakal Tertibkan Ratusan Terminal Khusus Sungai

Rakor Pembentukan Komoditas Maritim di Markas Ditpolairud Polda Sumsel/ist
Rakor Pembentukan Komoditas Maritim di Markas Ditpolairud Polda Sumsel/ist

Pembangunan terminal khusus sungai di Sumsel terus marak dalam beberapa tahun terakhir. Dinas Perhubungan Sumsel mencatat, setidaknya ada sebanyak 112 terminal khusus yang tersebar di tiga kawasan. Seperti Sungai Lilin, Sungai Lalan dan Sungai Musi. 


Keberadaan terminal khusus tersebut dipandang sudah terlampau banyak dan telah menyalahi aturan. Sehingga kedepannya akan dilakukan langkah penertiban. 

Kepala Dinas Perhubungan Sumsel, Ari Narsa melalui Kepala UPTD Penyelenggaraan ASDP dan Penyelenggara Angutan Laut, Johan Wahyudi mengatakan, pembangunan terminal khusus sungai diatur dalam Undang-undang nomor 17 tahun 2008 Tentang Pelayaran. 

Tujuan pembangunannya untuk menjalankan usaha pokok kepentingan sendiri seperti bongkar muat barang milik perusahaan swasta. 

Namun, berdasarkan aturan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang berlaku saat ini seharusnya keberadaan terminal itu hanya terkonsentrasi di satu titik setiap wilayah perairan.

"Sementara kita ini ada Pelabuhan Boombaru, nanti juga ada Pelabuhan Laut Tanjung Carat. Sehingga sudah seharusnya dilakukan penertiban," kata Johan saat dibincangi usai Rakor Pembentukan Komoditas Maritim di Markas Ditpolairud Polda Sumsel, Kamis (15/12).

Menurutnya, keberadaan terminak khusus sungai juga rawan dimanfaatkan oknum masyarakat untuk menyelundupkan barang ilegal. Sehingga, jika nantinya ditertibkan, pengawasan oleh aparat penegak hukum bisa lebih mudah lagi. 

Dia menjelaskan, penertiban termibnal khusus ditarget bisa terealisasi 2023 mendatang. 

"Ini untuk mencegah jangan sampai terjadinya aspek hukum ke depan. Siapa melakukan apa harus jelas. Lalu sungai ini bukan semata untuk pelayaran, tapi juga dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat dalam mendapatkan air bersih," tandasnya.