Ini Strategi Muba Antisipasi Energi Fosil yang Kian Menipis

Bupati Muba Dodi Reza Alex saat menjadi pembicara pada Yeosu-UEA Summit 2021, Kamis (30/9). (Humas Pemkab Muba/rmolsumsel.id)
Bupati Muba Dodi Reza Alex saat menjadi pembicara pada Yeosu-UEA Summit 2021, Kamis (30/9). (Humas Pemkab Muba/rmolsumsel.id)

Bahan bakar minyak dari energi fosil kian hari semakin menipis. Seluruh dunia berlomba mencari alternatif energi baru terbarukan mengantisipasi habisnya energi fosil di masa depan.


Hal itu pun sudah dilakukan Pemkab Musi Banyuasin dengan mengembangkan kelapa sawit menjadi bahan bakar atau biofuel. Tak hanya sebagai energi alternatif dan menekan emisi, inovasi yang diinisiasi Bupati Dodi Reza Alex ini diyakini mampu menyejahterakan petani sawit lokal.

“Energi fosil semakin menipis. Nah, hilirisasi kelapa sawit menjadi biofuel ini menjadi solusi transformasi dan penyiasatan energi fosil yang semakin menipis. Bahkan pada 2030 kami di Muba sudah siap menjadi ibu kota dunia energi baru terbarukan (EBT),” ujar Dodi saat menjadi pembicara pada Yeosu-UEA Summit 2021 bertema “Musi Banyuasin Regency as Pioneer of The Green Fuel Industry of Palm Oil to Support The Commitment Zero Emission by 2050” yang digelar secara virtual dari Hotel Santika Premiere Palembang, Kamis (30/9).

Menurut Dodi, impor BBM akan meningkat 6,3 persen per tahun menjadi 182,3 juta kiloliter pada tahun 2050. Proyeksi konsumsi minyak sawit untuk biohidrokarbon akan meningkat > 4,1 persen per tahun dari 5.158.000 ton pada tahun 2018 menjadi 42.670.000 ton pada tahun 2030.

“Terkait Kebijakan Energi Indonesia, dukungan terhadap komitmen Paris menargetkan bauran Energi Nasional untuk energi baru dan terbarukan mencapai 23 persen pada tahun 2025 dan 31 persen pada tahun 2050,” kata Wakil Ketua Bidang Hubal & Pengelolaan Migas Daerah ADPMET ini.

Dodi menambahkan, sebelum merealisasikan inovasi pengelolaan kelapa sawit menjadi bahan bakar bensin sawit, Muba tampil sebagai perintis pertama di Indonesia untuk peremajaan perkebunan kelapa sawit milik petani rakyat.

“Kita yakini bahkan juga didukung oleh UNESCO dan pakar marketing dunia Hermawan Kartajaya bahwa pada 2030 petani sawit Muba akan menjadi tuan rumah sendiri dengan kesejahteraan yang meningkat,” ucap Ketua Umum KADIN Sumsel ini.

Sub Division Chef Climate Change Division Dept. Environment Protection, Jen Miao Fen Chiang mengakui apa yang sudah dilakukan Muba saat ini merupakan fondasi yang kuat untuk menghadapi masa yang akan datang.

“Muba punya inovasi yang luar biasa, dan inisiasi tersebut diyakini dapat menekan emisi dengan maksimal,” tuturnya.

Pada Yeosu-UEA Summit 2021 secara virtual tersebut juga turut menjadi pembicara di antaranya Deputy Director Ministry of Agriculture Forestry and Fisheries, Heng Bunny; Director City ENRO (Environment Natural Resources Office), Noel Hechanova; Mayor Fongu Cletus Tanwe, Fongu Cletus Tanwe; Malaka Green Technology, Hafizam Mustaffa; Freelance Consultant Municipality Council Matale Sri Lanka, Wimal Wimaladasa; dan Senior Researcher R&D Bureau International Climate & Environment Center Republic of Korea, Dong Woo Yang.