Ini Penyebab Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg di Sumsel

ilustrasi (ist/rmolsumsel.id)
ilustrasi (ist/rmolsumsel.id)

Sejumlah wilayah di Sumsel mengalami kelangkaan gas Elpiji 3 Kg. Bahkan, harga jual di pasaran saat ini mencapai Rp30-40 ribu per tabung. Jauh dari harga eceran tertinggi (HET) yang seharusnya sebesar Rp 18.500 per tabung.


Kelangkaan tersebut disebabkan berbagai faktor. Salah satunya pengurangan kuota di lokasi tertentu untuk mencukupi permintaan di daerah lain.

Asisten II Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangan Provinsi Sumsel, Ekowati Retnaningsih mengatakan, kelangkaan gas elpiji tersebut cepat direspon Pemprov Sumsel. Tindakan yang diambil dengan menggelar rapat bersama pihak terkait penyaluran gas melon tersebut. Mulai dari Pertamina, Dirjen Migas Kementerian ESDM, Biro Ekonomi, Dinas ESDM, Dinas Perdagangan dan Hiswana Migas.

“Dari pertemuan tersebut, kelangkaan di sejumlah daerah lantaran adanya pengurangan kuota untuk mencukupi permintaan di daerah lain yang lebih tinggi,” ujar Eko saat dibincangi, Senin (1/11).

Ia mengatakan, kebutuhan gas elpiji di Sumsel mencapai 213.565 metrik ton. Jumlah tersebut dibagi ke 17 kabupaten/kota yang ada. Hanya saja, beberapa daerah ada pengurangan kuota untuk memenuhi permintaan daerah lain. Seperti di Kabupaten Lahat. Kuotanya mencapai 9.563 metrik ton. Sementara sampai Desember diperkirakan hanya 9.453 metrik ton.

“Sehingga ada selisih 110 metrik ton. Pengurangan ini disebabkan untuk memenuhi permintaan di daerah lain," terangnya.

Ia mengharapkan, pemenuhan permintaan gas elpiji di provinsi lain seharusnya bisa dilakukan dengan penambahan pasokan gas. “Kalau bisa pasokannya yang ditambah. Jangan kuota daerah lain yang digunakan untuk menutupinya,” bebernya.

Terkait lonjakan harga, Eko mengatakan penjualan gas elpiji di 136 agen dan 6.100 pangkalan gas elpiji yang ada di Sumsel sudah sesuai dengan HET yang ditentukan. Hanya saja, penjualan yang mereka lakukan kebanyakan ke pengecer. Bukan ke masyarakat langsung. Sehingga, harga yang didapat masyarakat menjadi tinggi.

“Selain itu, pembelinya juga tidak tepat sasaran. Karena dibeli oleh restoran dan kalangan menengah keatas. Nah, ini akan kami awasi lagi,” pungkasnya.