Cari Solusi Resesi Ekonomi, Peneliti dari 7 Negara Kumpul di Unpad

Global Advanced Research Conference on Management and Business Studies (GARCOMBS) in 2022/RMOLJabar.
Global Advanced Research Conference on Management and Business Studies (GARCOMBS) in 2022/RMOLJabar.

Para peneliti dari tujuh negera mengikuti Global Advanced Research Conference on Management and Business Studies (GARCOMBS) in 2022 yang diselenggarakan Program Studi Doktor Ilmu Manajemen (DIM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran (Unpad).


Dalam kesempatan tersebut, mereka menjelaskan sejumlah riset yang berhubungan dengan perbaikan perekonomian.

Ketua Program Studi DIM FEB Unpad Prof. Yudi Azis mengungkapkan, pertemuan ini sangat penting karena hasil riset yang selama ini diteliti tidak hanya untuk kepentingan internal kampus tapi juga bisa digunakan oleh pemerintah maupun masyarakat luas.

Hasil riset  para ahli ekonomi itu nantinya dapat membantu semua pihak guna mengatasi pelemahan sektor perekonomian yang diakibatkan oleh situasi global serta perbaikan industri ke depannya.

"Kondisi tak menentu, ada potensi resei ekonomi berdampak pada industri, jadi kami percaya masa depan membutuhkan solusi untuk meminimalisir risiko," ungkap Yudi dalam pembukaan GARCOMBS di Bandung, Sabtu (19/11).

Dijelaskannya, bakal ada 112 riset mengenai industri berkelanjutan yang berkaitan dengan banyak sektor. Sejumlah riset itu pun akan didiskusikan guna meninjau seberapa jauh dampak pada perbaikan kualitas masyarakat, maupun kritik atas riset tersebut.

"Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan hasil baik untuk industri yang berkelanjutan," jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, Prof. Dr. Ir. Hendarmawan menambahkan, setiap orang telah paham dampak akibat adanya pandemi Covid-19. Apalagi, saat ini terjadi gejolak keamanan global yang berpotensi terjadinya resesi ekonomi.

Oleh karena itu, dibutuhkan solusi maupun skenario jangka pendek hingga panjang untuk mengurangi dampak-dampak tersebut agar dapat segera melakukan penguatan.

"Konferensi seperti ini penting untuk membangun kepercayaan," tambah Hendarmawan.

Dekan FEB Unpad, Prof. Dr. Nunuy Nur Afiah memaparkan, kerja sama antara lembaga pendidikan dan pemerintah amat penting dalam memajukan sebuah negara.

Riset yang dilakukan bisa menjadi kesempatan baik untuk berkolaborasi agar bisa terpublikasikan secara masif.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang menilai industri yang berkelanjutan bisa menerapkan sistem konsep ekonomi sirkular.

Dengan cara tersebut, diharapkan bisa meminimalisasi Sumber Daya Alam (SDA) berlebih. Mengingat, SDA yang tersedia saat ini jumlahnya semakin sedikit.

Ia menyebut Indonesia saat ini masih bertumpu pada industri pengolahan SDA. Penggunaan bahan baku makin tinggi seiring jumlah konsumsi dari masyarakat yang ikut bertambah.

Sehingga, penggunaan sistem ekonomi sirkular diharapkan bisa mengefisiensikan bahan baku sehingga bisa digunakan kembali ketika barang tersebut sudah sempat dipakai.

"Indonesia hasilnya 67 juta ton sampah. Kalau ekonomi sirkular tidak dilakukan maka sumber daya alam menipis dan terjadi degradasi lingkungan serta krisi iklim," ucap Agus.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae memaparkan, persoalan ekonomi memang tengah menghantui banyak pihak pasca pandemi Covid-19. Tak hanya di Indonesia, kondisi ini juga terjadi pada skala global.

Terdapata lima isu utama yang dirasa penting untuk segera diatasi. Pertama, sebagai regulator, OJK perlu mempertimbangkan dan mengantisipasi pemulihan efek menakut-nakuti dan efek jurang pandemi di semua sektor.

Kedua, mengenai volatilitas, ketidakpastian,kompleksitas dan ambiguitas yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik global merupakan tantangan yang dihadapi secara global. Volatilitas dari harga komoditas dan energi, ketidakpastian rantai pasokan, kompleksitas global masalah ekonomi, ketidakpastian kebijakan, harus ditangani sesuai.

Ketiga, ketidakpastian yang terjadi di seluruh dunia akan membawa efek spill over ekonomi, seperti kenaikan inflasi, kenaikan suku bunga, perlambatan ekonomi (stagflasi), dan kenaikan harga energi.

Keempat, percepatan digitalisasi dan emerging technology di bidang keuangan menimbulkan tantangan bagi sektor perbankan. Perkembangan metaverse, cryptoassets, dan teknologi baru memberikan risiko yang tidak diketahui terutama bagi bank dengan tantangan kesiapan industri dalam aspek people, process, dan teknologi untuk mengelola dan mengurangi risiko. Bank juga perlu menilai risiko yang ditimbulkan oleh pengembangan mata uang digital bank sentral.

Kelima. perubahan iklim telah menjadi perhatian utama dunia akhir-akhir ini. Itu risiko finansial akibat perubahan iklim, target nol emisi, dan transisirisiko dan risiko fisik, dan bagaimana regulator harus menanggapi terkait iklim masalah dengan rekomendasi kebijakan.

Selain permasalahan global, terdapat pula permasalahan struktural yang dihadapi perbankan dalam negeri. Namun demikian, ada tantangan yang perlu diantisipasi, termasuk ancaman dan serangan siber, mendasar kesiapan infrastruktur, serta kolaborasi dan konektivitas bank.

"Untuk mengatasi hal tersebut, tantangan utama OJK sebagai regulator adalah fokus reformasi pengaturan, perizinan, dan pengawasan di bidang perbankan," tukas Dian.