Buruh di Palembang Bersiap Gelar Aksi Penolakan Kenaikan UMK Palembang

Ilustrasi/net
Ilustrasi/net

Para buruh di Palembang kini bersiap untuk menggelar aksi penolakan kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) Palembang 2022. Aksi penolakan tersebut rencananya bakal digelar akhir bulan mendatang.


Anggota Dewan Pengupahan Palembang, Ali mengatakan UMK Palembang memang mengalami kenaikan yakni sebesar 0,53 persen atau sekitar Rp19.400. Kenaikan tersebut berdasarkan sistem dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 36 tentang pengupahan. Dimana, formula cara hitungnya dari website sehingga tinggal dimasukkan data dari BPS dan langsung menghitung sendiri besarannya.

"Disana sudah ada rumusnya jadi tinggal menghitung sendiri," katanya, Kamis (25/11).

Dia menambahkan, setiap daerah tentunya tidak sama tergantung hasil survei, per kapita satu orang. Kemudian, ditambah lagi beberapa data lainnya dengan disesuaikan kebutuhan rumah tangga. Dari perhitungan tersebut, barulah didapatkan UMK Palembang tahun 2022 sebesar Rp3.289.493,90 atau meningkat sekitar Rp19.400.

"Hasil ini nantinya direkomendasikan ke Wali Kota Palembang kemudian ke Gubernur barulah diturunkan SK Gubernur," terangnya.

Terhadap hasil tersebut, meski mengalami peningkatan para buruh tetap mengambil sikap untuk menolak, sepanjang masih menggunakan Undang-Undang (UU) Cipta kerja dan turunannya. Menurutnya, alasan menolak ini bukan tidak mematuhi UU, melainkan UU Cipta Kerja ini lagi digugat di Mahkamah Konstitusi (MK). Bahkan, UU tersebut sudah dianggap melanggar.

Hanya saja, dia menyayangkan masih diberikan syarat selama dua tahun untuk dilakukan perbaikan kepada Pemerintah dan DPR untuk melakukan perubahan tersebut. Karena itu, dia mengaku para buruh akan menggelar aksi terhadap keputusan MK dan mempersoalkan upah yang merugikan banyak orang.

"MK tanggung, padahal itu sudah bertentangan dengan UU tapi masih diberi syarat. Jadi kami akan menggelar aksi penolakan ini," pungkasnya.