Alex Noerdin dan Jimly Asshiddiqie Urung Penuhi Panggilan Kejati, Terkait Kasus Masjid Raya Sriwijaya

Desain Masjid Raya Sriwijaya. (ist/rmolsumsel.id)
Desain Masjid Raya Sriwijaya. (ist/rmolsumsel.id)

Dua tokoh nasional asal Sumsel yakni Alex Noerdin dan Jimly Asshiddiqie, Senin (26/7), dijadwalkan memenuhi panggilan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Selatan (Sumsel) terkait kasus dugaan korupsi dana hibah pembangunan Masjid Raya Sriwijaya Palembang. Hanya saja, keduanya batal datang ke Kejati Sumsel dengan alasan tertentu.


Kasi Penyidik Kejati Sumsel Hendri Yanto, saat gelar rilis Senin (26/7) menjelaskan, mantan orang nomor satu di Sumsel berhalangan untuk menghadiri panggilan Kejati Sumsel dikarenakan ada kegiatan selaku anggota DPR RI.

“Selain hal itu juga yang bersangkutan terkendala aturan PPKM yang diterapkan di Jakarta. Untuk itu kita akan jadwalkan ulang kepada yang bersangkutan,” kata Hendri didampingi Plh Kasi Penkum Kejati Sumsel.

Sementara untuk Jimly Asshiddiqie, Hendri mengatakan hingga saat ini berhalangan hadir tanpa keterangan.

Tenaga Ahli Anggota DPR RI, Kemas Khoirul Mukhlis membenarkan terkait pengajuan permohonan pemanggilan ulang H Alex Noerdin. “Ya saya dimintakan oleh Pak Alex Noerdin menyampaikan surat penjadwalan ulang atas pemanggilan beliau sebagai saksi kasus dugaan korupsi masjid Sriwijaya sekira pukul 9  pagi tadi,” katanya usai ditemui di Kejati Sumsel.

Menurutnya, sebagai warga negara yang baik dan taat hukum, Alex Noerdin siap untuk hadir memberikan keterangan yang diperlukan tim penyidik Pidsus Kejati Sumsel. Hanya tinggal menunggu teknis dan waktunya akan berkoordinasi dengan pihak Kejati Sumsel.

“Nantinya, akan dicocokkan jadwalnya dan selaku warga yang baik beliau siap dipanggil untuk bersaksi, Namun mengenai waktu dan teknisnya akan dikomunikasikan lebih lanjut, karena bertepatan hari ini beliau lagi ada kegiatan di DPR serta aturan PPKM yang diterapkan di Jakarta hingga tidak bisa ke Palembang,” bebernya.

Rencananya sendiri, tim penyidik Pidsus Kejati Sumsel memanggil kembali enam orang tersangka, yakni Edi Hermanto, Dwi Kridayani, Syarifudin, Yudi Arminto, Mukti Sulaiman serta Ahmad Nasuhi, untuk diambil keterangan. Keterangan tersebut untuk melengkapi berkas dua tersangka yakni Mukti Sulaiman serta Ahmad Nasuhi.

Namun yang hadir memenuhi panggilan Tim Penyidik Kejati Sumsel hanya dua orang yakni Mukti Sulaiman serta Ahmad Nasuhi.