Akhir Cerita Tragis Persebaya Vs Arema FC Usai 127 Suporter Tewas, Bagaimana Nasib Liga Indonesia?

Tragedi di stadion Kanjuruhan Kepanjen, Malang, Jawa Timur yang menyebabkan 127 orang tewas. (ist/net)
Tragedi di stadion Kanjuruhan Kepanjen, Malang, Jawa Timur yang menyebabkan 127 orang tewas. (ist/net)

Laga pertandingan Persebaya Vs Arema FC yang berlangsung di stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang berakhir kerusuhan hingga membuat 127 orang tewas menjadi cerita kelam catatan terburuk sepakbola Indonesia.


Tragedi itupun memancing reaksi seluruh pihak dengan beragam tanggapan. Ada yang menyalahkan soal penembakan gas air mata, ada pula yang menyudutkan aksi anarkis dari suporter Aremania yang enggan menerima kekalahan saat tumbang melawan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3.

Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mencabut ijin penyelenggaraan sementara seluruh kompetisi liga yang dilakukan PSSI. Hal perlu dilakukan sebagai bahan evaluasi harkamtibmas, sambil menganalisa sistem pengamanan yang dilaksanakan oleh aparat kepolisian dalam mengendalikan kericuhan di sepak bola.

Pasalnya, kericuhan dalam tragedi tragis itu berawal dari kekecewaan suporter tim tuan rumah yang turun ke lapangan tanpa dapat dikendalikan oleh pihak keamanan.

"Bahkan, aparat kepolisian yang tidak sebanding dengan jumlah penonton, secara membabi buta menembakkan gas air mata sehingga menimbulkan kepanikan terhadap penonton yang jumlahnya ribuan,” tegas Sugeng kepada wartawan, Minggu (2/10).

"Akibatnya, banyak penonton yang sulit bernapas dan pingsan. Sehingga, banyak jatuh korban yang terinjak-injak di sekitar Stadion Kanjuruhan Malang,” imbuhnya.

Padahal, kata Sugeng, sesuai aturan FIFA penggunaan gas air mata di stadion sepak bola dilarang selama melakukan pengamanan.

Hal itu tercantum dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations. Pada pasal 19 huruf b disebutkan bahwa sama sekali tidak diperbolehkan mempergunakan senjata api atau gas pengendali massa.

"Oleh karena itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit juga harus mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat yang bertanggung jawab dalam mengendalikan pengamanan pada pertandingan antara tuan rumah Arema FC Malang melawan Persebaya Surabaya,” tegasnya.

"Kemudian, memerintahkan Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta untuk mempidanakan panitia penyelenggara pertandingan antara Arema FC vs Persebaya pada Sabtu (1 Oktober 2022),” tambahnya.

Sugeng mengatakan, jatuhnya korban tewas di sepakbola nasional ini, harus diusut tuntas pihak kepolisian. Pasalnya, Presiden Jokowi menaruh perhatian besar terhadap sepakbola di Indonesia yang selalu ricuh dan menelan korban jiwa.

Tidak kalah penting, Sugeng menuntut pertanggungjawaban dari Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan atau Iwan Bule atas peristiwa ini.

"Kemudian, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan (Iwan Bule) seharusnya malu dan mengundurkan diri dengan adanya peristiwa terburuk di sepak bola nasional,” demikian Sugeng. 

Polisi Libatkan PT LIB Untuk Usut Kerusuhan

Pihak kepolisian bersama dengan PT Liga Indonesia Baru (LIB) hingga saat ini masih bekerja mengusut penyebab kerusuhan usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang.

"Saat ini Polda Jatim biar bekerja dulu bersama PT Liga (Indonesia Baru) sebagai operator pertandingan dan stakeholders terkait," ujar Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo kepada wartawan, Minggu pagi (2/10).

Sementara itu kata Dedi, langkah saat ini, Tim Disaster Victim Investigation (DVI) Dokkes Polri siang ini akan berangkat ke Malang untuk membackup Tim DVI Polda Jawa Timur (Jatim) dan dokter setempat.

"Guna percepatan identifikasi korban dan fokus untuk memberikan pertolongan medis kepada korban-korban yang saat ini dirawat di beberapa RS," pungkas Dedi.

DPR RI Ikuti Soroti Peristiwa Kanjuruhan

Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda lewat akun sosial medianya, Minggu (2/10) mengaku sangat berduka atas tragedi yang berlangsung di stadion Kanjuruhan Kepanjen, Malang Jawa Timur yang menyebabkan sebanyak 127 supoter tewas.

“Tadi malam kita menerima kabar duka yang sangat luar biasa. Kita prihatin, kita sedih sebagai publik pecinta bola,” kata Syaiful

Menurutnya, peristiwa ini tidak boleh terjadi kembali dalam seluruh pertandingan bola di Indonesia. Sebab, akan memberikan catatan buruk bagi sepak bola tanah air di mata dunia.

“Ini peristiwa yang tidak perlu terjadi sebenarnya ketika kita semua pihak bisa secara jernih melihat berbagai peristiwa-peristiwa sebelumnya, yang semestinya bisa diantisipasi dengan baik,” katanya.

Legislator dari Fraksi PKB ini meminta agar aparat keamanan mengusut tuntas insiden tersebut sebagai bentuk tanggung jawab agar tidak terulang kembali. Jangan sampai kasus ini berlalu begitu aja tanpa ada pertanggungjawaban.

“Ini (penanganan peristiwa) yang lalu menjadikan banyak pihak dalam setiap proses penyelenggaraan kompetisi berjalan begitu saja,” tutupnya.