Inilah Pernyataan Sikap MH KAHMI atas Pernyataan Presiden Prancis

Beberapa hari terakhir, umat Islam di seluruh dunia meradang dengan pernyataan Presiden Prancis. Emmanuel Macron menyebut kartun Nabi Muhammad yang dibuat Majalah Charlie Hebdo tahun 2015 sebagai bentuk kebebasan berekspresi di negaranya.


Macron juga menyatakan masa depan Prancis hendak dirampas (oleh Islam garis keras). 

Sikap Macron ini terkait kematian Profesor Samuel Paty (47 tahun) oleh seorang pemuda Abdullah Anzorov (18 tahun), yang ditembak mati polisi beberapa saat kemudian. 

Majelis Nasional Korps Alumni HMI ( MN KAHMI) menilai, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah salah memaknai kebebesan. 

Dalam pernyataan resmi yang ditandatangani Koordiantor Presidium MN KAHMI Sigit Pamungkas dan Sekjen Manimbang Kaharyadi, MN KAHMI menegaskan kebebasan bukanlah berekspresi tanpa batas dan berlaku semena-mena. 

Kebebasan berpendapat tidak boleh melampaui batas karena setiap orang atau komunitas memiliki kebebasan yang sama.

Kebebasan tanpa batas justru melahirkan kekacauan bagi kemanusiaan dan perdamaian dunia. 

"Oleh sebab itu, kebebasan harus dimaknai sebagai sikap toleran kepada yang lain, menghormati perbedaan, dan tidak berbuat sesuatu yang mencederai pihak lain," tegas Sigit. 

Sebagai bagian dari umat Islam Indonesia dan dunia, MN KAHMI mengecam dan menyesalkan penggunaan berbagai bentuk kekerasan dan ekstrimisme yang dimaksudkan untuk menyelesaikan berbagai masalah atau perbedaan-perbedaan yang dihadapi antar komunitas di dunia. 

Penggunaan kekerasan tidak akan mampu menyelesaiakan masalah, justru akan 
melahirkan spiral kekerasan tanpa ujung. 

MN juga mengecam pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron sebagai bentuk Islamophobia dan menuntut yang bersangkitan meminta maaf kepada seluruh umat Islam. 

MN KAHMI mendukung solidaritas semua kalangan di seluruh dunia untuk melakukan boikot kepentingan ekonomi Prancis sebagai bentuk protes menyesalkan sikap Presiden Prancis. 

MN KAHMI juga mendorong semua komunitas internasional menggunakan kebebasan berekpresi secara bertanggungjawab, penuh toleransi, tidak provokatif, dan mendukung perdamaian. 

Meski demikian, MN KAHMI meminta seluruh umat beragama di Indonesia tetap menjaga toleransi dan kebersamaan serta mempererat barisan untuk menjaga persatuan nasional.