Ibunda Pelaku Serangan di Prancis Terus Menangis

Pembantaian di gereja di Kota Nice, Prancis, membuat masyarakat Tunisia kaget. Terlebih, keluarga si tersangka pelaku kekejaman dan pemenggalan itu, Brahim Issaoui. Mereka sangat terkejut. Keluarga mengatakan Issaoui baru meninggalkan Tunisia beberapa pekan lalu.


“Itu tidak wajar," kata Yassine, saudara laki-laki Issaoui. 

Ia tidak percaya bahwa saudara kandungnya bertanggung jawab atas serangan yang terjadi di tengah kemarahan yang meluas di kalangan umat Islam atas komentar Presiden Prancis Emmanuel Macron. 

Issaoui (21) masih dalam kondisi serius setelah ditembak beberapa kali oleh polisi pasca melakukan serangan pisau brutal pada hari Kamis (29/10) waktu setempat di kota selatan Nice. 

Lahir dari keluarga sederhana di kota Sfax, Tunisia tengah, Issaoui telah mendalami agama dan mengisolasi dirinya sendiri dalam dua tahun terakhir, kata kerabatnya kepada AFP. 

“Dia berdoa... (dan) pergi dari rumah untuk bekerja lalu pulang. Tidak bergaul dengan orang lain atau meninggalkan rumah,” kata ibunya, menangis sambil memegang foto paspor pemuda berkerudung putih, seperti dikutip dari AFP, Jumat (30/10/2020). 

“Tapi sebelumnya, dia memang peminum. Dia minum alkohol dan menggunakan obat-obatan. Saya biasa mengatakan kepadanya, 'kita miskin dan kamu membuang-buang uang?' Dia akan menjawab jika Tuhan menghendaki, dia akan membimbing saya ke jalan yang benar, itu urusan saya',” kisah ibunya. 

Issaoui memiliki 11 saudara kandung. Dia tinggal bersama orangtuanya di sebuah rumah sederhana di jalan berlubang di lingkungan kelas pekerja dekat zona industri di pinggiran Sfax. 

Ibunya mengatakan putranya itu putus sekolah dan bekerja sebagai montir sepeda motor. Brahim telah berjuang untuk mendapatkan pekerjaan tetap sebelum meninggalkan negara itu dan melakukan 'berbagai pekerjaan', kata seorang tetangga. 

“Saya menyuruhnya untuk menyewa sebuah toko kecil dengan 1.100 hingga 1.200 dinar (sekitar 400 dolar yang dia hemat) agar bisa bekerja,” kata ibunya, yang tidak mau menyebutkan namanya. “Dia bilang dia ingin mendirikan kios untuk menjual bensin.”

 Issaoui kemudian bergabung dengan rombongan warga Tunisia yang berangkat ke Italia untuk menadu nasibnya. Jumlah orang Tunisia yang beremigrasi secara ilegal ke Italia mencapai rekor 20.000 setelah revolusi 2011, sebelum turun tajam. 

Jumlah pendatang kembali meningkat sejak 2017. Issaoui sudah mencoba sekali sebelumnya untuk mencapai Eropa, dan tidak memberitahu keluarganya bahwa dia akan mencoba lagi, menurut saudaranya. 

Setelah berhasil mencapai Italia dan menemukan pekerjaan memanen buah zaitun, tambah saudaranya, dia pergi ke Prancis. 

“Dia mengatakan dia pergi ke Prancis karena lebih baik untuk bekerja dan ada terlalu banyak orang di Italia,” kata Yassine. 

Keluarga itu mengatakan dia menelepon pada 28 Oktober malam, sehari sebelum serangan, memberitahu mereka bahwa dia baru saja tiba di negara itu. Mengirimkan foto Katedral Notre Dame kepada mereka sebelum melakukan serangan. 

Luar biasa, mereka mengatakan mereka tidak mengerti bagaimana dia bisa melakukan serangan di Nice hanya beberapa jam setelah tiba di Prancis. 

Banyak warga Tunisia mengutuk pernyataan Macron tentang Islam, hal itu memicu perdebatan tentang kebebasan berbicara - dipandang sebagai salah satu pencapaian paling solid dari revolusi 2011 negara itu. 

Tunisia, di mana sebelum revolusi 2011, pihak berwenang mengendalikan praktik agama dan menindas perbedaan pendapat, menyaksikan peningkatan Islam radikal pasca pemberontakan dan gelombang serangan jihadis pada 2015. 

Meskipun situasi keamanan telah meningkat pesat, serangan sporadis masih terjadi, khususnya menargetkan pasukan keamanan.