Brahim Tidak Sendiri, Tersangka Kedua Dibekuk Polisi

Penyelidik Prancis telah menahan tersangka lain yang juga terlibat dalam serangan keji hari Kamis (29/10/2020) di Basilika Notre Dame di Kota Nice Riviera.


Dalam keterangannya, pejabat kehakiman mengatakan pria yang tidak disebutkan identitasnya itu berusia 47 tahun. Tersangka diyakini telah melakukan kontak dengan Brahim Issaoi pada malam sebelum kejadian. 

Sementara itu, tersangka utama serangan Nice,  Issaoui, terluka parah setelah ditembak oleh polisi. Pihak berwenang mengatakan kini dia sedang dirawat di rumah sakit dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan, seperti dikutip dari AP, Sabtu (31/10). 

Otoritas Prancis menyebut serangan itu sebagai 'terorisme Islam'. Saat ini baik jaksa di Prancis dan Tunisia sedang menyelidiki kasus tersebut.

Seorang jaksa pengganti di kantor kejaksaan anti-terorisme Tunisia Mohsen Dali mengatakan kepada The Associated Press, klaim tanggung jawab datang dalam sebuah posting online yang mengatakan serangan itu dilakukan oleh sebuah kelompok bernama Al Mehdi dari Tunisia Selatan, yang sebelumnya tidak diketahui oleh pihak berwenang Tunisia. 

Di Nice, empat tentara dengan senapan secara berkala berjalan melewati gereja pada hari Jumat (30/10) waktu setempat, ketika para pelayat meletakkan bunga, pesan, dan lilin di pintu masuk, menyilangkan diri dan berdoa dalam hati untuk ketiga korban. 

Mereka termasuk Vincent Loques yang berusia 55 tahun, ayah dua anak yang merupakan sakristan gereja, yang bertanggung jawab atas benda-benda sucinya, menurut penyiar lokal France-Bleu.

 Yang lainnya adalah seorang ibu berusia 44 tahun dengan tiga anak dari Brasil, menurut Kementerian Luar Negeri Brasil. 

France-Bleu mengatakan namanya Simone dan dia pernah belajar memasak di Nice dan membantu komunitas miskin di daerah tersebut. 

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan hari Jumat dengan TV Al-Arabiya milik Saudi, ibu penyerang mengatakan dia terkejut dengan kejadian tersebut. Dari Provinsi Sfax Tunisia, sang ibu, dengan mata berlinang air mata, mengatakan dia terkejut mendengar putranya berada di Prancis ketika dia menelepon saat kedatangannya dan tidak tahu apa yang dia rencanakan. 

"Anda tidak tahu bahasa Prancis, Anda tidak tahu siapa pun di sana, Anda akan tinggal sendirian di sana, mengapa, mengapa Anda pergi ke sana?" dia bilang dia memberitahunya melalui telepon pada saat itu. 

Saudaranya mengatakan kepada Al-Arabiya bahwa Issaoui telah memberitahu keluarga bahwa dia akan tidur di depan gereja, dan mengirimi mereka foto yang menunjukkan dia sedang berada di katedral tempat serangan itu terjadi. 

"Dia tidak memberitahuku apa-apa," katanya. 

Seorang tetangga mengatakan dia mengenal penyerang yang disebutnya berprofesi sebagai mekanik. dan memegang berbagai pekerjaan serabutan lainnya, dan tidak menunjukkan tanda-tanda radikalisasi.